Labels

Senin, 19 Desember 2011

Aku Bangga Menjadi Anak Tobadak


Aku Bangga menjadi anak tobadak. Yah benar aku bangga terlahir di desa tobadak. Betapa tidak, saat aku terlahir di dunia, tempat kelahiranku adalah desa terindah yang penuh dengan panorama-panorama menakjubkan, kearifan local yang membanggakan, persatuan dan gotong royong menghiasi segala kegiatan di masyarakat, memiliki kebudayaan dan kesenian yang beragam dan sangat menarik, dan jauh dari hingar-bingar perkotaan yang sering membuat manusia lupa diri.
Dulu, setiap minggunya, terlihat kegiatan kerja bakti dan gotong royong antara masyarakat, mereka bersama-sama memperbaiki jalan, gotong royong membersihkan tempat ibadah, gotong royong merenovasi tempat-tempat umum, kantor desa, jalan, dsb. Saya pun dulu sewaktu kecil bersama teman-teman yang lain rutin membersihkan areal pekuburan umum di desaku. Sungguh kebersamaan dan persaudaraan terjalin erat.
Tidak ada kesenjangan antara pejabat desa dan warga, mereka semua saling bahu-membahu dan turut serta membangun desa tanpa melihat strata.
Dulu, hampir di setiap ada hari-hari besar yang dirayakan, semua masyarakat berkumpul di balai desa atau di lapangan guna untuk bersama-sama meramaikan dan memperingati hari besar itu. Anak-anak kecil ditawari dengan perlombaan yang menghibur dan menyemangati hidupnya. Malam harinya, ditampilkan kebudayaan dan kesenian-kesenian dari tiap suku dan daerah yang menjadi warga di desaku. Di sekolahku pun demikian, ketika perpisahan kelas, maka setiap siswa akan berlomba-lomba menampilkan sesuatu yang berkenang dan menghibur. Ada yang menampilkan kesenian tari, ada yang paduan suara, ada yang drama, dan beragam kesenian dan kebudayaan lainnya. Aku sangat merindukannya.
Dulu, sebelum lebaran ‘idul fitri maupun ‘idul adha. ibu-ibu di desaku bersatu dan berkumpul bersama untuk membuat jajanan ringan yang akan dihidangkan di meja bagi tamu-tamu yang datang untuk silaturahim saat lebaran. Di saat lebaran tiba, semua orang tanpa mengenal usia saling berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya guna menjalin silaturahim dan ber-maaf-maaf-an, tawa dan cerita menghiasi segala pertemuan mereka. Akankah hal itu terulang kembali.
Dulu, setiap beberapa bulannya, diadakan layar tancap di balai desa. Semua elemen masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul dan menonton hiburan layar tancap bersama. Sungguh menyaksikan hiburan layar tancap dengan nuansa kebersamaan sangat mengenang bagiku. Sewaktu belum ada televisi, dongeng-dongeng menjadi pengantar tidurku dan memberikan aku pelajaran-pelajaran dan contoh yang berharga yang selanjutnya membentuk kepribadianku. Dari dongeng jaka tarup, jaka tingkir, jaka sembung, sampai cerita tentang nabi dan rasul serta orang-orang shaleh.
Dulu, permainanku sewaktu kecil sangat menarik dan kreatif. Alat-alat permainan dibuat sendiri, bentuk permainan dibuat sendiri, serta metodenya pun dibuat sendiri. Dengan membuat sendiri itu, setiap anak pasti telah menghasilkan minimal satu karya alat permainan kreatif. Salah satu contohnya, saat itu ada yang membuat mobil-mobilan dari bekas kulit jeruk, dari botol, dari kayu, dari bambu, dan dari beragam bahan lainnya. Sungguh kreatif dan membangun permainan anak-anak saat itu.
Dulu, kehidupan di daerahku sangat religious. Toleransi agama sangat tegak berdiri. Musholla-musholla berdiri dan memfasilitasi pengajaran-pengajaran agama bagi orang-orang desa. Ketika jumatan, semua orang dari sudut-sudut desa tanpa terkecuali berkumpul di masjid desa untuk mendengarkan khutbah jumat dan melaksanakan ibadah shalat jumat. Setiap malam senin, desaku menggema dengan shalawat-shalawat yang merasuk ke jiwa dan menyemangati setiap muslim di desaku. Setiap malam jumat, yasinan dari rumah ke rumah diadakan guna menjalin silaturahim dan persaudaraan. Majelis ta’lim setiap minggunya mengadakan kegiatan dari rumah ke rumah. Begitu pun dengan agama lainnya, penganut agama Kristen katolik maupun protestan setiap minggunya melakukan ibadah di gereja bahkan terkadang melakukan kunjungan dan ibadah ke rumah sesama penganut Kristen. Apalagi hindu, hampir setiap ada perayaan hari-hari besar agama hindu, keheningan pedesaan lenyap seketika digantikan dengan puji-pujian dan syair-syair serta ritual yang sangat member kesan religiusitas.
Berjalannya waktu, tobadak semakin berkembang. Beragam kemajuan dihasilkan. Dalam hal fasilitas atau sarana-prasarana, di desaku Sekolah-sekolah dan Taman Kanak-Kanak mulai berdiri, rumah-rumah mulai terenovasi, perbaikan jalan mulai dilakukan, puskesmas pun telah ada dan siap melayani, kantor pemerintahan desa telah sering terisi, tempat-tempat ibadah mulai dibangun dan dipermegah, masuknya jaringan komunikasi-tower, tiang listrik mulai berbaris di sepanjang jalan dan lorong-lorong di desa, dan lain-lain.
Yah memang tidak bisa dipungkiri terjadi kemajuan dalam hal fasilitas di desaku sejak dibukanya desaku sebagai wilayah transmigrasi pada tahun 1988. Sedangkan mengenai kebudayaan, kesenian, pola pikir, cara pandang, pendidikan, karakter, social, kesehatan, politik, kesadaran berbangsa, agama, keamanan dan ekonomi yang ada di desaku, apakah kini mengalami KEMAJUAN atau malah KEMUNDURAN. Mari kita sebagai anak tobadak memikirkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar