Aku Bangga menjadi anak tobadak. Yah benar aku
bangga terlahir di desa tobadak. Betapa tidak, saat aku terlahir di dunia, tempat kelahiranku adalah desa terindah
yang penuh dengan panorama-panorama menakjubkan, kearifan local yang
membanggakan, persatuan dan gotong royong menghiasi segala kegiatan di
masyarakat, memiliki kebudayaan dan kesenian yang beragam dan sangat menarik,
dan jauh dari hingar-bingar perkotaan yang sering membuat manusia lupa diri.
Dulu, setiap minggunya, terlihat kegiatan kerja bakti dan
gotong royong antara masyarakat, mereka bersama-sama memperbaiki jalan, gotong
royong membersihkan tempat ibadah, gotong royong merenovasi tempat-tempat umum,
kantor desa, jalan, dsb. Saya pun dulu sewaktu kecil bersama teman-teman yang
lain rutin membersihkan areal pekuburan umum di desaku. Sungguh kebersamaan dan
persaudaraan terjalin erat.
Tidak ada kesenjangan antara pejabat desa dan
warga, mereka semua saling bahu-membahu dan turut serta membangun desa tanpa
melihat strata.
Dulu, hampir di setiap ada hari-hari besar yang
dirayakan, semua masyarakat berkumpul di balai desa atau di lapangan guna untuk
bersama-sama meramaikan dan memperingati hari besar itu. Anak-anak kecil
ditawari dengan perlombaan yang menghibur dan menyemangati hidupnya. Malam harinya,
ditampilkan kebudayaan dan kesenian-kesenian dari tiap suku dan daerah yang
menjadi warga di desaku. Di sekolahku pun demikian, ketika perpisahan kelas,
maka setiap siswa akan berlomba-lomba menampilkan sesuatu yang berkenang dan
menghibur. Ada yang menampilkan kesenian tari, ada yang paduan suara, ada yang
drama, dan beragam kesenian dan kebudayaan lainnya. Aku sangat merindukannya.
Dulu, sebelum lebaran ‘idul fitri maupun ‘idul adha.
ibu-ibu di desaku bersatu dan berkumpul bersama untuk membuat jajanan ringan
yang akan dihidangkan di meja bagi tamu-tamu yang datang untuk silaturahim saat
lebaran. Di saat lebaran tiba, semua orang tanpa mengenal usia saling
berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya guna menjalin silaturahim dan
ber-maaf-maaf-an, tawa dan cerita menghiasi segala pertemuan mereka. Akankah
hal itu terulang kembali.
Dulu, setiap beberapa bulannya, diadakan layar tancap di
balai desa. Semua elemen masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul dan
menonton hiburan layar tancap bersama. Sungguh menyaksikan hiburan layar tancap
dengan nuansa kebersamaan sangat mengenang bagiku. Sewaktu belum ada televisi,
dongeng-dongeng menjadi pengantar tidurku dan memberikan aku
pelajaran-pelajaran dan contoh yang berharga yang selanjutnya membentuk kepribadianku.
Dari dongeng jaka tarup, jaka tingkir, jaka sembung, sampai cerita tentang nabi
dan rasul serta orang-orang shaleh.
Dulu, permainanku sewaktu kecil sangat menarik dan
kreatif. Alat-alat permainan dibuat sendiri, bentuk permainan dibuat sendiri,
serta metodenya pun dibuat sendiri. Dengan membuat sendiri itu, setiap anak
pasti telah menghasilkan minimal satu karya alat permainan kreatif. Salah satu
contohnya, saat itu ada yang membuat mobil-mobilan dari bekas kulit jeruk, dari
botol, dari kayu, dari bambu, dan dari beragam bahan lainnya. Sungguh kreatif
dan membangun permainan anak-anak saat itu.
Dulu, kehidupan di daerahku sangat religious. Toleransi
agama sangat tegak berdiri. Musholla-musholla berdiri dan memfasilitasi
pengajaran-pengajaran agama bagi orang-orang desa. Ketika jumatan, semua orang
dari sudut-sudut desa tanpa terkecuali berkumpul di masjid desa untuk
mendengarkan khutbah jumat dan melaksanakan ibadah shalat jumat. Setiap malam
senin, desaku menggema dengan shalawat-shalawat yang merasuk ke jiwa dan
menyemangati setiap muslim di desaku. Setiap malam jumat, yasinan dari rumah ke
rumah diadakan guna menjalin silaturahim dan persaudaraan. Majelis ta’lim
setiap minggunya mengadakan kegiatan dari rumah ke rumah. Begitu pun dengan
agama lainnya, penganut agama Kristen katolik maupun protestan setiap minggunya
melakukan ibadah di gereja bahkan terkadang melakukan kunjungan dan ibadah ke
rumah sesama penganut Kristen. Apalagi hindu, hampir setiap ada perayaan
hari-hari besar agama hindu, keheningan pedesaan lenyap seketika digantikan
dengan puji-pujian dan syair-syair serta ritual yang sangat member kesan
religiusitas.
Berjalannya waktu, tobadak semakin berkembang.
Beragam kemajuan dihasilkan. Dalam hal fasilitas atau sarana-prasarana, di
desaku Sekolah-sekolah dan Taman Kanak-Kanak mulai berdiri, rumah-rumah mulai
terenovasi, perbaikan jalan mulai dilakukan, puskesmas pun telah ada dan siap
melayani, kantor pemerintahan desa telah sering terisi, tempat-tempat ibadah
mulai dibangun dan dipermegah, masuknya jaringan komunikasi-tower, tiang
listrik mulai berbaris di sepanjang jalan dan lorong-lorong di desa, dan
lain-lain.
Yah memang tidak bisa dipungkiri terjadi kemajuan
dalam hal fasilitas di desaku sejak dibukanya
desaku sebagai wilayah transmigrasi pada tahun 1988. Sedangkan mengenai
kebudayaan, kesenian, pola pikir, cara pandang, pendidikan, karakter, social,
kesehatan, politik, kesadaran berbangsa, agama, keamanan dan ekonomi yang ada
di desaku, apakah kini mengalami KEMAJUAN atau malah KEMUNDURAN. Mari kita
sebagai anak tobadak memikirkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar