“Assalamualaikum
warahmatullah, assalamualaikum warahamtullah”.
Terdengar
ucapan salam dari masjid nurul huda yang terletak di pusat desa mahahe. Suara
itu pun menunjukkan bahwa ibadah shalat jumat telah selesai dilaksanakan.
Meskipun demikian, jamaah jumat masih khusyu’ di tempatnya masing-masing
sembari berdzikir dan mengagungkan asma-asma Allah serta berdoa kepada-Nya.
Setelah berdoa, para jamaah segera berdiri dari tempatnya kemudian mendatangi sang
imam untuk bersalaman dengannya. Kemudian dilanjutkan dengan bersalaman
antar-jamaah diiringi senyum dan raut bahagia di wajah mereka.
Di
pojok parkiran masjid, Nampak dua pemuda yang sedang asyik ngobrol.
“Sal ntar sore ke tower tobadak satu yuk”,
ajak mahfud kepada faisal sepupunya. “kata orang mantap pemandangannya bahkan
bisa melihat desa tobadak dari atas” dia melanjutkan.
“iya
cak!. Kemaren-kemaren sebenarnya saya mau ngajak kamu cak ke sana, tapi ibumu
ngelarang, katanya bahaya” jawab faisal dengan aksen maduranya.
“oo
pernah po?” mahfud keheranan. Kemudian melanjutkan:
”tapi sore ini kamu bisa kan?”. “Oia ajakin teman yang lain ya! Supaya agak ramean dikit. hehe” tambah mahfud.
”tapi sore ini kamu bisa kan?”. “Oia ajakin teman yang lain ya! Supaya agak ramean dikit. hehe” tambah mahfud.
“hehe
sip cak!” sambil tertawa riang faisal menjawab.
Saat
hendak memasang kunci motor di lubangnya, tiba-tiba mahfud berbalik dengan
setengah berteriak: “oia sal, hampir kelupaan. Kamera jangan sampai
ketinggalan!”.
Faisal
pun hanya membalasnya dengan senyuman dan geleng-geleng kepala.
Setelah
percakapan itu, keduanya pun pulang ke rumah masing-masing dengan harapan
segera bertemu dengan sang sore dan dapat melakukan apa yang mereka rencanakan.
| Pemandangan desa tobadak yang indah (agustus 2011) |
Mereka
berdua adalah pemuda desa mahahe. Desa mahahe merupakan sebuah desa yang berada
di kecamatan tobadak, kabupaten mamuju Sulawesi barat. Desa mahahe pun dikenal
dengan nama tobadak dua. Sebagai daerah suaka atau daerah obyek transmigrasi
zaman orde baru, desa ini ditinggali oleh berbagai macam suku, agama, budaya,
dan adat istiadat yang berasal dari berbagai daerah dan provinsi di Indonesia.
Dalam kecamatan tobadak, selain tobadak dua, terdapat pula tobadak satu,
tobadak tiga hingga tobadak delapan serta ditambah dengan beberapa desa.
Sore
pun tiba dengan diiringi alunan adzan di berbagai surau dan masjid di desa
mahahe. Setelah melaksanakan shalat ashar, mahfud segera mengambil motornya dan
menuju ke rumah faisal yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. Tiba
disana, ternyata faisal pun telah siap bersama temannya, muksan. Awalnya mahfud
mengira, faisal dan muksan goncengan. Namun ternyata faisal dan muksan
masing-masing membawa goncengan, dimana faisal dengan heni, adiknya sedangkan muksan
bersama dengan sodikin, adiknya. Jadi otomatis keduanya naik motor bersama
adiknya masing-masing sedangkan mahfud hanya sendirian tanpa goncengan. Dengan
tawa bahagia dan penuh harap untuk dapat melihat tobadak dari puncak bukit, mereka
pun memulai perjalanan.
| Perkebunan kelapa sawit di Tobadak dua (agustus 2011) |
Penghasilan
utama penduduk atau masyarakat tobadak dua adalah perkebunan kelapa sawit,
sehingga di pinggir-pinggir jalan yang dilewati oleh mahfud dkk nampak
perkebunan kelapa sawit yang rapi dan hijau. Awalnya desa ini merupakan daerah
perkebunan karet, namun setelah perusahaan produksi karet di daerah ini
mengalami kebangkrutan akibat dampak krisis moneter 1998, tanah perkebunan di
desa ini dibeli oleh PT Astra Agro Lestari dan dijadikan perkebunan kelapa
sawit. Perubahan tanaman perkebunan ini membawa dampak positif bagi masyarakat
desa, salah satunya meningkatkan pendapatan per kapita penduduk desa.
Singkat
cerita, akhirnya mereka sampai juga di tujuan. Segera mereka memarkir kendaraan
di kaki bukit. Di atas bukit, terlihat tower atau pemancar sinyal telkomsel
yang berdiri dengan kokoh. Adanya tower ini pula menyebabkan bukit ini
dibuatkan tangga untuk mencapai puncaknya, sehingga mahfud dkk dapat mendakinya
tanpa harus merangkak dan bergelantungan. Jumlah anak tangga yang ada di bukit
ini sebenarnya hanya berkisar antara 80 sampai 90, namun masyarakat sekitar
sering membulatkannya menjadi seratus anak tangga.
Pendakian
yang tidak cukup mudah. Bagi mahfud pendakian menggunakan tangga lebih cepat
membuat letih dibanding pendakian secara
alami. Keletihan pun terlihat di wajah dikin, lebih-lebih heni yang umurnya
paling muda dari mereka berlima. Namun keletihan ini tidak terlihat di wajah
faisal dan muksan. Dengan keinginannya yang menggebu, mereka berdua dapat
mencapai puncak lebih dahulu daripada yang lain bahkan sempat mengelilingi
bukit sekali putaran sebelum mahfud, heni dan dikin sampai di puncak.
| sungai besar menambah keindahan tobadak (agustus 2011) |
“Subhanallah!”,
tanpa sadar mahfud, faisal dan muksan bergumam, berdecak kagum akan indahnya
desa tempat kelahiran mereka itu. Sedangkan heni dan muksan tidak dapat
melihatnya karena tinggi badan mereka tidak melampaui ketinggian pohon kelapa
(cacao) yang menghalangi pemandangan tersebut.
| Desa tobadak terlihat dari puncak bukit (19 agustus 2011) |
Sungai
besar yang mengaliri pinggiran desa, pepohonan kelapa dan perkebunan coklat
yang meramaikan pinggiran sungai serta jalan utama kecamatan tobadak yang
berliku membawa nuansa keindahan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.
Kamera yang dibawa faisal pun tanpa henti segera mengambil gambar dari berbagai
sudut pandang. Mulai dari pemandangan langit bagaikan payung yang menaungi
perbukitan dan perkebunan kelapa sawit, pemandangan jalur utama transportasi
yang Nampak indah dari ketinggian, tata letak rumah pedesaan yang berada di
pinggir jalan, pemandangan sawah yang tertata rapi dengan gunung tanpa nama
sebagai latar belakangnya, hingga pemandangan sebuah pondokan yang berada di
tengah-tengah sawah.
Dengan
sekejap, rasa dahaga dan kelaparan akibat puasa terasa lenyap. Pemandangan ini
bagi mereka sangat menakjubkan dan tidak membosankan untuk selalu di pandang.
Tak
terasa, waktu pun menunjukkan 17.20 WITA. Hal ini disadari mahfud ketika tanpa
sengaja tangannya yang memakai jam mencoba menyingkirkan semut yang ada di
kakinya. Akhirnya mereka pun turun dari puncak bukit dan segera mengendarai
motornya untuk segera pulang. Meskipun di benak mereka telah terbayang
nikmatnya santapan buka yang akan dinikmatinya di rumah masing-masing, mereka
tetap terbayang akan betapa indahnya pemandangan yang dilihatnya sore ini. heni
dan dikin pun dapat membayangkannya setelah keduanya melihat foto hasil
jepretan dari kamera faisal. Saat sampai di perempatan dekat pintu gerbang desa
mahahe, mereka pun berpisah. Raut wajah gembira yang Nampak puas dengan apa
yang mereka raih hari ini, sebuah kecintaan yang makin kuat tertanam di lubuk
hati akan desa kelahiran mereka.
meskipun tulisan ini telah rencana saya buat dua bulan yang lalu dan akhirnya baru tuntas sekarang,,alhamdulillah setidaknya langkah awalku telah dimulai...moga makin rajin aja
BalasHapusMantap sob, tangga seribu kata org..hehehe
BalasHapushehe kan emang bos....ooia makasih dah ngunjungi blog ini bos...
BalasHapussss,,, keren... lanjut trusss sob.......
BalasHapussip makasih semangatnya...mari anak tobadak terus berkarya
BalasHapusDengan banyaknya hasil karya temen2 dari tobadak,, yang jelas aq ikut senang dan bangga,,,,
BalasHapusTrus berkarya sob,,,,,,,