Labels

Selasa, 11 Oktober 2011

Desa yang Indah


“Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahamtullah”.
Terdengar ucapan salam dari masjid nurul huda yang terletak di pusat desa mahahe. Suara itu pun menunjukkan bahwa ibadah shalat jumat telah selesai dilaksanakan. Meskipun demikian, jamaah jumat masih khusyu’ di tempatnya masing-masing sembari berdzikir dan mengagungkan asma-asma Allah serta berdoa kepada-Nya. Setelah berdoa, para jamaah segera berdiri dari tempatnya kemudian mendatangi sang imam untuk bersalaman dengannya. Kemudian dilanjutkan dengan bersalaman antar-jamaah diiringi senyum dan raut bahagia di wajah mereka.

Di pojok parkiran masjid, Nampak dua pemuda yang sedang asyik ngobrol.

“Sal ntar sore ke tower tobadak satu yuk”, ajak mahfud kepada faisal sepupunya. “kata orang mantap pemandangannya bahkan bisa melihat desa tobadak dari atas” dia melanjutkan.

“iya cak!. Kemaren-kemaren sebenarnya saya mau ngajak kamu cak ke sana, tapi ibumu ngelarang, katanya bahaya” jawab faisal dengan aksen maduranya.

“oo pernah po?” mahfud keheranan. Kemudian melanjutkan:
”tapi sore ini kamu bisa kan?”. “Oia ajakin teman yang lain ya! Supaya agak ramean dikit. hehe” tambah mahfud.

“hehe sip cak!” sambil tertawa riang faisal menjawab.

Saat hendak memasang kunci motor di lubangnya, tiba-tiba mahfud berbalik dengan setengah berteriak: “oia sal, hampir kelupaan. Kamera jangan sampai ketinggalan!”.

Faisal pun hanya membalasnya dengan senyuman dan geleng-geleng kepala.

Setelah percakapan itu, keduanya pun pulang ke rumah masing-masing dengan harapan segera bertemu dengan sang sore dan dapat melakukan apa yang mereka rencanakan.

Pemandangan desa tobadak yang indah (agustus 2011)
Mereka berdua adalah pemuda desa mahahe. Desa mahahe merupakan sebuah desa yang berada di kecamatan tobadak, kabupaten mamuju Sulawesi barat. Desa mahahe pun dikenal dengan nama tobadak dua. Sebagai daerah suaka atau daerah obyek transmigrasi zaman orde baru, desa ini ditinggali oleh berbagai macam suku, agama, budaya, dan adat istiadat yang berasal dari berbagai daerah dan provinsi di Indonesia. Dalam kecamatan tobadak, selain tobadak dua, terdapat pula tobadak satu, tobadak tiga hingga tobadak delapan serta ditambah dengan beberapa desa.

Sore pun tiba dengan diiringi alunan adzan di berbagai surau dan masjid di desa mahahe. Setelah melaksanakan shalat ashar, mahfud segera mengambil motornya dan menuju ke rumah faisal yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya. Tiba disana, ternyata faisal pun telah siap bersama temannya, muksan. Awalnya mahfud mengira, faisal dan muksan goncengan. Namun ternyata faisal dan muksan masing-masing membawa goncengan, dimana faisal dengan heni, adiknya sedangkan muksan bersama dengan sodikin, adiknya. Jadi otomatis keduanya naik motor bersama adiknya masing-masing sedangkan mahfud hanya sendirian tanpa goncengan. Dengan tawa bahagia dan penuh harap untuk dapat melihat tobadak dari puncak bukit, mereka pun memulai perjalanan.

Perkebunan kelapa sawit di Tobadak dua (agustus 2011)
Penghasilan utama penduduk atau masyarakat tobadak dua adalah perkebunan kelapa sawit, sehingga di pinggir-pinggir jalan yang dilewati oleh mahfud dkk nampak perkebunan kelapa sawit yang rapi dan hijau. Awalnya desa ini merupakan daerah perkebunan karet, namun setelah perusahaan produksi karet di daerah ini mengalami kebangkrutan akibat dampak krisis moneter 1998, tanah perkebunan di desa ini dibeli oleh PT Astra Agro Lestari dan dijadikan perkebunan kelapa sawit. Perubahan tanaman perkebunan ini membawa dampak positif bagi masyarakat desa, salah satunya meningkatkan pendapatan per kapita penduduk desa.

Singkat cerita, akhirnya mereka sampai juga di tujuan. Segera mereka memarkir kendaraan di kaki bukit. Di atas bukit, terlihat tower atau pemancar sinyal telkomsel yang berdiri dengan kokoh. Adanya tower ini pula menyebabkan bukit ini dibuatkan tangga untuk mencapai puncaknya, sehingga mahfud dkk dapat mendakinya tanpa harus merangkak dan bergelantungan. Jumlah anak tangga yang ada di bukit ini sebenarnya hanya berkisar antara 80 sampai 90, namun masyarakat sekitar sering membulatkannya menjadi seratus anak tangga.

Pendakian yang tidak cukup mudah. Bagi mahfud pendakian menggunakan tangga lebih cepat membuat letih dibanding pendakian  secara alami. Keletihan pun terlihat di wajah dikin, lebih-lebih heni yang umurnya paling muda dari mereka berlima. Namun keletihan ini tidak terlihat di wajah faisal dan muksan. Dengan keinginannya yang menggebu, mereka berdua dapat mencapai puncak lebih dahulu daripada yang lain bahkan sempat mengelilingi bukit sekali putaran sebelum mahfud, heni dan dikin sampai di puncak.

sungai besar menambah keindahan tobadak (agustus 2011)
“Subhanallah!”, tanpa sadar mahfud, faisal dan muksan bergumam, berdecak kagum akan indahnya desa tempat kelahiran mereka itu. Sedangkan heni dan muksan tidak dapat melihatnya karena tinggi badan mereka tidak melampaui ketinggian pohon kelapa (cacao) yang menghalangi pemandangan tersebut.

Desa tobadak terlihat dari puncak bukit (19 agustus 2011)
Sungai besar yang mengaliri pinggiran desa, pepohonan kelapa dan perkebunan coklat yang meramaikan pinggiran sungai serta jalan utama kecamatan tobadak yang berliku membawa nuansa keindahan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Kamera yang dibawa faisal pun tanpa henti segera mengambil gambar dari berbagai sudut pandang. Mulai dari pemandangan langit bagaikan payung yang menaungi perbukitan dan perkebunan kelapa sawit, pemandangan jalur utama transportasi yang Nampak indah dari ketinggian, tata letak rumah pedesaan yang berada di pinggir jalan, pemandangan sawah yang tertata rapi dengan gunung tanpa nama sebagai latar belakangnya, hingga pemandangan sebuah pondokan yang berada di tengah-tengah sawah.

Dengan sekejap, rasa dahaga dan kelaparan akibat puasa terasa lenyap. Pemandangan ini bagi mereka sangat menakjubkan dan tidak membosankan untuk selalu di pandang.

Tak terasa, waktu pun menunjukkan 17.20 WITA. Hal ini disadari mahfud ketika tanpa sengaja tangannya yang memakai jam mencoba menyingkirkan semut yang ada di kakinya. Akhirnya mereka pun turun dari puncak bukit dan segera mengendarai motornya untuk segera pulang. Meskipun di benak mereka telah terbayang nikmatnya santapan buka yang akan dinikmatinya di rumah masing-masing, mereka tetap terbayang akan betapa indahnya pemandangan yang dilihatnya sore ini. heni dan dikin pun dapat membayangkannya setelah keduanya melihat foto hasil jepretan dari kamera faisal. Saat sampai di perempatan dekat pintu gerbang desa mahahe, mereka pun berpisah. Raut wajah gembira yang Nampak puas dengan apa yang mereka raih hari ini, sebuah kecintaan yang makin kuat tertanam di lubuk hati akan desa kelahiran mereka.

6 komentar:

  1. meskipun tulisan ini telah rencana saya buat dua bulan yang lalu dan akhirnya baru tuntas sekarang,,alhamdulillah setidaknya langkah awalku telah dimulai...moga makin rajin aja

    BalasHapus
  2. Mantap sob, tangga seribu kata org..hehehe

    BalasHapus
  3. hehe kan emang bos....ooia makasih dah ngunjungi blog ini bos...

    BalasHapus
  4. sss,,, keren... lanjut trusss sob.......

    BalasHapus
  5. sip makasih semangatnya...mari anak tobadak terus berkarya

    BalasHapus
  6. Dengan banyaknya hasil karya temen2 dari tobadak,, yang jelas aq ikut senang dan bangga,,,,
    Trus berkarya sob,,,,,,,

    BalasHapus