Labels

Senin, 19 Desember 2011

Aku Bangga Menjadi Anak Tobadak


Aku Bangga menjadi anak tobadak. Yah benar aku bangga terlahir di desa tobadak. Betapa tidak, saat aku terlahir di dunia, tempat kelahiranku adalah desa terindah yang penuh dengan panorama-panorama menakjubkan, kearifan local yang membanggakan, persatuan dan gotong royong menghiasi segala kegiatan di masyarakat, memiliki kebudayaan dan kesenian yang beragam dan sangat menarik, dan jauh dari hingar-bingar perkotaan yang sering membuat manusia lupa diri.
Dulu, setiap minggunya, terlihat kegiatan kerja bakti dan gotong royong antara masyarakat, mereka bersama-sama memperbaiki jalan, gotong royong membersihkan tempat ibadah, gotong royong merenovasi tempat-tempat umum, kantor desa, jalan, dsb. Saya pun dulu sewaktu kecil bersama teman-teman yang lain rutin membersihkan areal pekuburan umum di desaku. Sungguh kebersamaan dan persaudaraan terjalin erat.

Selasa, 11 Oktober 2011

Desa yang Indah


“Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahamtullah”.
Terdengar ucapan salam dari masjid nurul huda yang terletak di pusat desa mahahe. Suara itu pun menunjukkan bahwa ibadah shalat jumat telah selesai dilaksanakan. Meskipun demikian, jamaah jumat masih khusyu’ di tempatnya masing-masing sembari berdzikir dan mengagungkan asma-asma Allah serta berdoa kepada-Nya. Setelah berdoa, para jamaah segera berdiri dari tempatnya kemudian mendatangi sang imam untuk bersalaman dengannya. Kemudian dilanjutkan dengan bersalaman antar-jamaah diiringi senyum dan raut bahagia di wajah mereka.

Di pojok parkiran masjid, Nampak dua pemuda yang sedang asyik ngobrol.

“Sal ntar sore ke tower tobadak satu yuk”, ajak mahfud kepada faisal sepupunya. “kata orang mantap pemandangannya bahkan bisa melihat desa tobadak dari atas” dia melanjutkan.

“iya cak!. Kemaren-kemaren sebenarnya saya mau ngajak kamu cak ke sana, tapi ibumu ngelarang, katanya bahaya” jawab faisal dengan aksen maduranya.

“oo pernah po?” mahfud keheranan. Kemudian melanjutkan: